Tuesday, March 27, 2012

Struktur dan Sifat Karaginan

1.      Karaginan
Karaginan merupakan getah rumput laut yang diesktrak dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga merah), dan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium, natrium, magnesium, dan kalsium sulfat, dengan galaktosa dan 3,6 kopolimer anhidrogalaktosa (Winarno 2008). Karaginan membentuk gel secara reversible dan kekuatan gel serta suhu penjelannya bergantung pada kation kalium dan ammonium. Karaginan diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga merah) jenis karaginofit seperti Euchema sp., Chondrus sp., Hypnea sp., Gigartina sp. (Anggadiredja et al. 2009).
Secara umum, karaginan dibagi atas tiga kelompok utama yaitu kappa, iota, dan lamda karaginan yang memiliki struktur dan bentuk yang jelas sebagai polisakarida hidrofilik linier yang memiliki berat molekul tinggi, yang tersusun dari disakarida berulang dengan unit galaktosa dan 3,6 anhidrolgalaktosa (3,6 AG) dan terdiri dari grup sulfat dan nonsulfat, bergabung dengan rantai glikosidik dengan α-(1,3) dan β-(1,4) yang bertukar (Imeson 2010).
Karaginan merupakan tepung berwarna putih kekuning-kuningan, mudah larut dalam air, membentuk larutan kental atau gel tergantung dari proporsi fraksi kappa dan lambda karaginan serta keseimbangan kation dalam larutan. Karaginan mempunyai sifat pembentuk gel. Proses pembentukan gel terjadi karena adanya ikatan antar rantai polimer sehingga membentuk struktur tiga dimensi yang mengandung pelarut pada celah-celahnya. Pembentukan kerangka tiga dimensi oleh, “double helix‟ akan mempengaruhi pembentukan gel.
Karaginan dalam larutan akan membentuk rangkaian polimer acak yang tidak dipengaruhi oleh reaksi ion spesifik. Pada tahap kedua rangkaian polimer akan membentuk ion spesifik yang cocok untuk pembentukan gel. Konsistensi gel karaginan dipengaruhi oleh jenis dan tipe karaginan, adanya ion-ion, serta pelarut yang menghambat terbentuknya hidrokoloid (Towle 1973).

1.1  Kappa Karaginan
Kappa karaginan memiliki gugus sulfat yang paling sedikit dan mudah untuk membentuk gel (Arda et al. 2007). Kappa karaginan tersusun dari α(1,3)-D-Galaktosa-4 sulfat dan β(1,4) 3,6-anhydro D Galaktosa (Winarno 2008). Iota karaginan terdiri dari ikatan 1,3-D-galaktosa-4-sulfat dan ikatan 1,4 dari unit 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat. Kappa karaginan dapat membentuk gel yang paling kuat (Glicksman 1983). Disamping itu karaginan sering mengandung D-galaktosa 6-sulfat dan ester 3.6 anhidro D-galaktosa 2-sulfat mengandung gugusan 6-sulfat, dapat menurunkan daya gelasi dari karaginan, tetapi dengan pemberian sekali mampu menyebabkan terjadinya transeliminasi gugusan 6-sulfat, yang menghasilkan terbentuknya 3.6 anhidro-D-galaktosa.
Struktur dasar kappa karaginan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Struktur dasar kappa karaginan
            Kemampuan membentuk gel adalah sifat terpenting dari kappa karaginan. Adanya gugus 6-sulfat dapat menurunkan daya gelasi dan karaginan sehingga perlu dihilangkan melalui pemberian alkali yang menyebabkan terbentuknya unit 3,6-anhidro-D-galaktosa (Winarno 1990). Peningkatan kandungan unit 3,6-anhidro-D-galaktosa akan menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap ion potassium yang pada akhirnya dapat meningkatkan kekuatan gel dari karaginan. Kappa karaginan yang baik mempunyai kandungan 3,6-anhidro-D-galaktosa yang hampir mendekati 35% (Glicksman 1983).

1.2  Iota Karaginan
Iota karaginan berasal dari v(nu)-karaginan yang terdiri dari ikatan 1,3-D-galaktosa-4-sulfat dan ikatan 1,4 dari unit 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat. Iota karaginan terbentuk karena hilangnya sulfat pada atom C6 dari v(nu)-karaginan sehingga terbentuk 3,6-anhidro-D-galaktosa yang selanjutnya menjadi iota karaginan (Glicksman 1983).
Gugusan 2-sulfat ester tidak dapat dihilangkan oleh proses pemberian alkali seperti halnya kappa karaginan. Iota karaginan sering mengandung beberapa gugusan sulfat ester yang menyebabkan kurangnya keseragaman molekul yang dapat dihilangkan dengan pemberian alkali (Winarno 1990).
Struktur dasar iota karaginan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Struktur dasar iota karaginan
            Perbedaan utama antara iota karaginan dengan kappa karaginan adalah adanya gugus 2-sulfat pada 3,6-anhidro-D-galaktosa pada iota karaginan yang mempengaruhi sensitivitas terhadap ion potassium. Peningkatan gugus 2-sulfat hingga 25-50% menyebabkan penurunan sensitivitas terhadap ion potassium yang juga mengakibatkan penurunan gel yang terbentuk. Namun demikian, adanya gugus 2-sulfat ester hingga 80% akan menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap ion kalsium. Hal inilah yang menyebabkan iota karaginan akan membentuk gel yang kuat bila dicampur dengan ion kalsium dan akan menjadi gel yang keras dan rapuh bila dicampur dengan ion potassium (Glicksman 1983).

1.3  Lambda Karaginan
Lambda karaginan tersusun atas ikatan 1,3-D-galaktosa-2-sulfat dan 1,4-D-galaktosa-2,6-disulfat. Ikatan 1,3-D-galaktosa pada lambda karaginan berbeda dengan yang ada pada kappa dan iota karaginan, yaitu ikatan 1,3-D-galaktosa pada lambda karaginan tidak mempunyai gugus sulfat pada atom C4, melainkan gugus sulfat pada atom C2 (Glicksman 1983). Lambda karaginan yang terekstraksi oleh alkali kuat akan menjadi θ(teta)-karaginan dengan melepas 6-sulfat dari ikatan 1,4-D-galaktosa-2,6-disulfat untuk membentuk 3,6-anhidro-D-galaktosa (Glicksman 1983).
            Struktur dasar lambda karaginan dapat dilihat Gambar 3.
Gambar 3. Struktur dasar lambda karaginan
            Lambda karaginan berbeda dengan kappa dan iota karaginan, karena memiliki sebuah residu disulfat α (1.4) D-galaktosa. Tidak seperti halnya pada kappa dan iota karaginan yang selalu memiliki gugus 4-phosphat ester. (Winarno 1990). Lambda karaginan mudah larut pada semua kondisi karena tanpa unit 3.6-anhidro-D-galaktosa dan mengandung gugus sulfat yang lebih tinggi (Towle 1973).

SUMBER PUSTAKA
Anggadiredja J T, Zatnika A, Purwoto H, Istini S. 2009. Rumput Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.
Arda E, Kara S, Peckcan O. 2007. Synergistic effect of the locust bean gum on the thermal phase transitions of k-carrageenan gels. Food Hydrocolloids Journal. 23: 451-459.
Glicksman 1983. Food Hydrocoloid. Vol II. CRC press, Inc. Florida.
Imeson A. 2010. Food Stabilisers,Thickeners and Gelling Agents. Inggris: Blackwell Publishing.
Towle GA. 1973. Carrageenan di dalam Industrial Gums. Academic Press. London
Winarno FG. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Winarno FG. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Bogor : M-Brio Press.

Sunday, February 19, 2012

Daftar Kelompok kitin kitosan

Daftar Kelompok praktikum Teknologi Pengembangan Kitin dan Kitosan THP 46

Kel 1 :
1. Theorema
2. Saptari
3. Abdhu
4. Asti
5. Cholil
6. Eska

Kel 2 :
1. Silvana
2. Saraswati
3. M. Jamil
4. Casti
5. Dianita
6. Risa

Kel 3 :
1. Ayu fitri
2. Amelia
3. Cholifah
4. Yudha
5. Galih
6. Rezki

Kel 4 :
1. Sri Hayati
2. Rita
3. Reza
4. Tika
5. Batara
6. Darya

Kel 5 :
1. Wiwid
2. Monica
3. Bayu
4. Nur Syafiqoh
5. Handi
6. Alam

Kel 6 :
1. Rasta
2. Detti
3. Wenny
4. Zaika
5. Virjean
6. Yulian

Kel 7 :
1. Dini aphe
2. Putriana
3. Candra
4. Yoshi
5. Budi

Kel 8 :
1. Syeila
2. Zhalindri
3. Giri
4. Imam
5. Rika

Kel 9 :
1. Christy
2. Ovintya
3. Affan
4. Acil
5. Marisky

Kel 10 :
1. Dwi safitri
2. Widyana
3. Rohmad
4. Etha
5. Ucup

Kel 11 :
1. Tenny
2. Suhariyanto
3. Annisa
4. Puspita
5. Ia Arga

Kel 12 :
1. Mashita
2. Lukman
3. Sari
4. Fachri
5. Dhani

cc : Rafiq kemarin sudah lapor asisten dan dapat kelompok berapa ? blm dicatet.

Tuesday, December 20, 2011

Komoditas perikanan

1. Jelaskan pandangan anda tentang UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan !

Undang-undang menjelaskan tentang yurisdiksi wilayah perairan Indonesia mulai dari ZEE hingga laut lepas yang sumberdayanya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Selain itu undang-undang tersebut untuk melindungi nelayan-nelayan Indonesia dan mensejahterakan nelayan kecil di Indonesia.

UU No. 31 tahun 2004 dianggap belum mencerminkan keberpihakan negara terhadap nelayan kecil (tradisional) karena orientasinya masih melihat pasar, atau sebatas peningkatan devisa negara. Jika dilihat dari pasal per-pasal, mulai diijinkannya kapal asing dan zonasi penangkapan. Hendaknya Jaring Pendapat Mengenai Draft RUU Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan memberikan kebebasan nelayan kecil sebagaimana tertuang pada Pasal 61 ayat (1). Meski pasal ini berniat membela nelayan kecil dengan memberikan akses seluas-luasnya, namun pada kenyataannya pasal ini menjadi salah satu biang keladi terjadinya konflik antarnelayan karena persaingan yang tidak seimbang. Memang sudah ada aturan jalur-jalur tangkapan, namun aturan tersebut berlaku bagi nelayan besar yang tidak diperbolehkan masuk wilayah nelayan kecil.

2. Jelaskan komoditas unggulan yang secara empiris menurut anda dapat dikembangkan !

Komoditas unggulan yang saat ini harus dikembangkan adalah ikan sidat. Ikan sidat memiliki kandungan protein yang tinggi dan sangat baik apabila ikan sidat dijadikan produk olahan dan mampu menarik minat masyarakat untuk mengkonsumsinya. Ikan sidat dikenal dapat menambah kecerdasan pada anak-anak. Mengandung lemak yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan anak-anak serta tidak mengandung kolesterol. Ikan ini sebaiknya dijadikan produk diversifikasi pangan misalnya dijadikan bakso, nugget, ataupun sosis.

Ikan Sidat (Anguila marmorata) memiliki nilai ekonomis yang tinggi, namun harganya juga cenderung mahal. Ikan ini memiliki kandungan vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin A masing-masing adalah 25 kali lipat, 5 kali lipat dan 45 kali lipat susu sapi, kandungan zinc (emas otak) merupakan 9 kali lipat susu sapi. Ikan sidat mengandung berbagai asam lemak tak jenuh yang tinggi yang tak ada pada hewan lainnya, sehingga dapat merupakan makanan utama yang memenuhi nafsu makan manusia, tanpa perlu khawatir badan akan menjadi gemuk. Rasa ikan sidat harum dan enak, disebut sebagai “ginseng air”, fungsinya dalam memperpanjang umur dan melawan kelemahan dan penuaan tak ternilai.

Selain itu produk yang bisa diunggulkan adalah rumput laut. Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar - agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmenfiko b ilin (terdiri darifi ko ere trin danfi ko sian in) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan - bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung yodium.

3. Jelaskan mengapa ikan bersifat high perishable !

Kelemahan ikan adalah bersifat high perishable (cepat membusuk). Ikan relatif lebih cepat mengalami pembusukan daripada daging unggas atau mamalia karena pada saat ikan ditangkap, ikan selalu berontak dan menggelepar-gelepar sehingga banyak kehilangan glikogen dan glukosa. Glikogen dan glukosa pada hewan yang mati dapat mengalami glikolisis menjadi asam piruvat yang selanjutnya akan dirubah menjadi asam laktat. Ikan yang terlalu banyak berontak pada saat ditangkap maka akan kehilangan banyak glikogen dan glukosa sehingga kandungan asam laktat ikan menjadi rendah. Oleh karena itu, nilai pH ikan tersebut menjadi normal. Nilai pH yang mendekati normal akan merangsang pertumbuhan bakteri dan mempercepat pembusukkan. Selain itu ikan mengandung kadar air yang cukup tinggi sehingga merangsang pertumbuhan mikroba dengan cepat.

AVERTEBRATA AIR II

UNIRAMIA

Uniramia berasal dari bahasa Latin unus, yang berarti satu dan ramo yang berarti cabang, karena semua apendik pada ruas-ruas tubuhnya uniramus. Terdapat sepasang antena, sepasang mandibel, dan sepasang maksila. Uniramia sebagian besar hidup di darat, beberapa di air tawar, dan sebagian di air laut. Filum Uniramia dibagi menjadi dua subfilum, yaitu subfilum Myriapoda, dan subfilum Hexapoda

A. SUBFILUM MYRIAPODA

Tubuh Myriapoda panjang dan langsing. Pada tiap ruas terdapat sepasang kaki jalan kecuali pada ruas yang paling ujung. Myriapoda terdiri dari empat kelas, diantaranya adalah Chilopoda contohnya kelabang, Symphyla yaitu kelabang kecil yang ukuran tubuhnya kurang dari 8 mm, Diplopoda contohnya luwing, dan Pauropoda yaitu seperti kelabang kecil dan pendek yang panjang tubuhnya kurang dari 2 mm. Sebagian besar merupakan hewan yang hidup di darat namun ada juga yang hidup di laut di daerah pasang surut.

B. SUBFILUM HEXAPODA (INSECTA)

Tubuh Hexapoda terbagi menjadi kepala, thorax, dan abdomen terbagi dengan jelas. Ruas thorax selalu tiga buah dan masing-masing mempunyai sepasang kaki jalan. Abdomen terbagi menjadi sebelas ruas. Semua hexapoda mempunyai dua pasang maksila dan kebanyakan memiliki ocellus dan mata majemuk.

Subfilum Hexapoda dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Apterygota, merupakan serangga yang tidak bersayap, dan Pterygota merupakan serangga yang memiliki sayap atau secara sekunder tidak bersayap.

1. Kelas Apterygota

Kelompok Apterygota terdiri dari lima kelas, yaitu Diplurata, Oligoentomata, Myrientomata, Zygoentomata, dan Archeognathata. Kelompok Apterygota tidak mengalami metamorfosa. Apterygota merupakan hewan scavenger, yaitu pemakan bangkai atau dapat memakan serangga yang lebih kecil ukurannya

2. Kelas Pterygota

Pterygota memiliki tiga pasang kaki jalan, dua pasang sayap pada thorax, satu pasang antenna, dan satu pasang mata majemuk di kepala. Umumnya Pterygota hidup bebas, beberapa sebagai parasit dan bersifat sebagai hama. Kelas serangga ini memapu membatasi penguapan air pada tubuhnya karena tubuhnya memiliki kutikula dan sistem trakhea. Serangga juga memiliki variasi bentuk mulut, diantaranya adalah mulut untuk memotong atau menggigit, menusuk atau menghisap mangsa. Menghisap madu atau untuk menjilat.

Sayap serangga yang lebih primitif berbentuk seperti jala. Sayap serangga adalah pelebaran atau melipatnya kulit tubuh yang terdiri atas dua lapisan kutikula. Pada bagian yang mengandung pembuluh darah terjadi penebalan kutikula sehingga berfungsi sebagai rangka penunjang sayap. Bagian kutikula yang menebal dan keras dinamakan sklerit. Kutikula mengandung zat tanduk dan merupakan eksoskeleton atau rangka luar yang terbagi menjadi lempeng-lempeng terpisah. Lempeng tiap ruas dihubungkan dengan selaput penghubung (articular membran) yang terdiri atas lapisan kutikula tipis dan lentur. Kutikula tiap ruas terdiri dari empat helai lempengan, yaitu sebuah tergum dorsal, dua buah pleura lateral, dan sebuah sternum ventral.

Rangka luar arthropoda dihasilkan oleh lapisan sel epitel yang terletak dibawahnya disebut hypodermis. Kutikula terdiri atas lapisan tipis epikutikula dan prokutikula yang lebih tebal. Epikutikula mengandung lapisan lilin. Prokutikula terdiri atas eksokutikula dan endokutikula. Pada eksokutikula mengandung pigmen warna dintaranya adalah coklat, kuning, jingga, merah.

Selama hidup, serangga melakukan proses molting. Molting sendiri terbagi menjadi empat fase, diantaranya adalah Premolt (Proecdysis) merupakan fase persiapan yaitu pada saat lapisan hypodermis memisah dari rangka luar dan menghasilkan epikutikula baru, molt (ecdysis) merupakan saat hewan keluar dari kulit lama, post molt (postecdysis) yaitu peristiwa setelah berganti kulit. Kulit baru masih lunak dan lentur. Hewan bersembunyi karena terjadi pembentukan endokutikula dan pengendapan kalsium karbonat, intermolt atau instar yaitu fase antara pergantian kulit, diantaranya adalah penebalan dan pengerasan prokutikula, mengumpulkan cadangan makanan.

Alat pernafasan serangga umumnya adalah sistem trakhea. Sistem pencernaan sempurna, alurnya adalah makanan masuk melalui mulut, kemudian ke saluran pencernaan melalui pharinx dan masuk ke saluran pencernaan depat (foregut) terdiri dari esofagus, tembolok, dan proventiculus. Saluran pencernaan tengah (midgut) yaitu ventriculus atau lambung merupakan penghasil utama enzim pencernaan dan tempat penyerapan makanan. Saluran pencernaan belakang atau protocdeum terdiri atas usus di bagian anterior dan rektum di bagian posterior, berfungsi sebagai pembuangan sisa pencernaan dan penyerapan air.

Alat ekskresi utama serangga adalah tubulus malpighi dan sistem saraf terdiri atas otak dan saraf ganglia. Reproduksi seksual dan pembuahan terjadi di dalam. Tidak semua serangga mengalami metamorfosa. Apterygota merupakan serangga primitif yang dalam daur hidupnya tidak mengalami metamorfosa. Tingkatan metamorfosa pada kelompok serangga ada tiga macam, diantaranya adalah Paurometabola yaitu metamorfosa bertahap, telur mentas menjadi nimfa dengan bentuk dewasa yang serupa, Hemimetabola merupakan metamorfosa tidak lengkap. Telur mentas menjadi nimfa akuatik dan biasanya memiliki insang tambahan kemudian berkembang menjadi serangga dewasa yang hidup di darat, Holometabola merupakan metamorfosa lengkap. Telur menetas menjadi larva yang aktif bergerak dan makan, metamorfosa menjadi kepompong yang diam tidak makan, akhirnya menjadi dewasa.

HEMICHORDATA

Filum Hemichordata memiliki bentuk tubuh seperti cacing kecil, soliter, atau koloni, dan merupakan benthos di laut. Filum Hemichordata terbagi menjadi dua kelas, yaitu Enteropneusta, dan Pterobranchia.

A. KELAS ENTEROPNEUSTA

Bentuk tubuh seperti cacing dengan ukuran 9-45 cm. Umumnya terdapat di perairan dangkal, di bawah batu dan karang dan meliang dalam lumpur dan pasir.

Tubuh umumnya lunak dan terdiri dari belalai, kelepak (collar), dan badan yang panjang. Pada belalai (probosis) terdapat cillia yang berfungsi sebagai tenaga penggerak dan mengalir butir-butir makanan yang menmpel pada lendir ke mulut. Kelepak berbentuk silinder, bagian anterior menutupi belalai dan bagian ventral terletak mulut. Tepi sisi dorsal badan yang berbatasan dengan kelepak terdapat deretan pori-pori insang yang tersusun longitudinal.

Enteropneusta yang hidup meliang sebagian besar merupakan pemakan bahan organik tersuspensi, yaitu memakan detritus dan palnkton yang melekat pada lendir permukaan belalai. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, pharinx, esofagus, usus, dan anus. Sistem peredaran darah terbuka terdiri dari pembuluh kontraktil dan satu sistem saluran sinus. Darah tidak berwarna.

Enteropneusta merupakan cacing yang mudah putus sehingga sering sekali bentuknya sudah tidak utuh. Cacing ini memiliki daya regenerasi yang besar, sehingga dapat memperbaiki bagian tubuhnya yang rusak. Reproduksi seksual, dioecious dan pembuahan terjadi di luar. Telur mentas menjadi larva tornaria yang berenang bebas.

B. KELAS PTEROBRANCHIA

Merupakan cacing kecil yang hidup di dalam tabung, berkelompok atau berkoloni. Panjang idividu tidak lebih 12 mm. Tubuh terdiri atas probosis yang berbentuk seperti tameng (perisai) dan tangan-tangan yang mengandung tentakel terdapat di bagian dorsal kelepak (collar). Tangan tentakel tersebut disebut tangan lophophore. Tetntakel berfungsi untuk menangkap makanan yang berupa organisme kecil dan disalurkan oleh cillia ke mulut.

Reproduksi aseksual dengan membentuk pertunasan sehingga menghasilkan sebuah koloni yang lebih besar. Reproduksi seksual, dioecious dengan pembuahan terjadi di luar, larva mirip dengan larva tornaria.

CHORDATA

Filum Chordata terbagi menjadi tiga subfilum, yaitu Urochordata, Cephalochordata, dan Vertebrata. Urochordata dan Cephalochordata tidak memiliki tulang belakang sedangkan Vertebrata telah memiliki tulang belakang. Ciri khas chordata adalah memiliki sebuah notochord, sebuah benang saraf yang bolong, celah-celah insang (gill clefts) dan sebuah ekor post anal.

A. SUBFILUM UROCHORDATA

Umumnya hidup sebagai hewan benthik, dan beberapa jenis hidup sebagai plankton. Terdapat 3 kelas, yaitu Ascidiacea, Thaliacea, dan Larvacea.

1. Kelas Ascidiacea

Disebut juga penyemprot laut. Umumnya hidup sessile dan menempel pada karang, cangkang moluska, lunas kapal, atau pada dasar pasir dan lumpur. Bentuk tubuh kecil seperti kantung balon kecil. Mempunyai dua buah bukaan, bucal siphon (sifon air masuk) dan cloacal siphon atau sifon keluarnya air.

Tubuh ascidian tertutup oleh lapisan epitel. Di lapisan luar terbungkus lagi oleh sebuah mantel atau tunic. Mantel tersusun dari zat yang berupa selulosa yang disebut tunicine. Dalam mantel tunicine terdapat sel amoeboid dan sel darah yang bermigrasi dari mesenkhim.

Kebanyakan tunica berukuran kecil dan hidup berkoloni. Individu yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan stolon. Air masuk membawa oksigen dan butir-butir makanan melalui sifon air masuk atau branchial siphon yang terbuka di anterior, kemudian mengalir ke pharinx dan selanjutnya ke atrium, kemudian keluar melalui sifon air keluar.

Tunica merupakan filter feeder, dan reproduksi umumnya bersifat hermafrodit. Ovari terletak di bawah atau di dekat lambung. Spesies soliter biasanya mempunyai telur kecildengan sedikit kuning telur. Sedangkan jenis koloni biasanya mempunyai kuning telur lebih banyak dan telur dierami dalam atrium. Telur menetas menjadi larva appendicularia.

Koloni ascidian terbentuk dengan pertunasan. Tunas tunica disebut blastozooid. Tunas pada Perophora terbentuk dari stolon, yaitu tangkai penghubung antar zooid. Pada Diazona, tunas terbentuk pada daerah abdomen.

2. Kelas Thaliacea

Merupakan tunica pelagis. Hidup soliter atau dalam bentuk koloni. Sifon air masuk dan sifon air keluar terdapat di ujung yang berlainan. Selain untuk pertukaran gas dan makanan, berfungsi juga sebagai alat gerak. Semua hidup sebagai plankton di laut, di daerah tropis, dan subtropis.

3. Kelas Larvacea (Appendicularia)

Tubuh kecil dan transparan. Memiliki notochord dan ekor di belakang anus. Tubuh melengkung membentuk huruf U seperti larva ascidian yang mirip dengan berudu. Semua larvacea merupakan soliter. Mulut terletak di anterior dan anus di ventral.

Larvacea tidak memiliki mantel atau tunic dari selulosa. Permukaan lapisan epitel menghasilkan zat yang berfungsi untuk menyelimuti seluruh tubuh. Pelindung tubuh yang disebut “rumah’ pada Oikopleura berbentuk bulat, dan lebih besar daripada tubuhnya. Pada Fritillaria tubuh berada di luar “rumah” dan organisme berada di bawahnya. Di dalam “rumah” terdapat beberapa rongga yang berhubungan satu sama lain. Reproduksi seksual, hermafrodit.

B. SUBFILUM CEPHALOCHORDATA

Bentuk cephalochordata seperti ikan kecil, panjang antara 4-8 cm. Bentuk tubuh pipih secara lateral dan kepala tidak jelas, kedua ujungnya meruncing. Cephalochordata merupakan penghubung antara avertebrata dan vertebrata.

Cephalochordata biasa disebut lancelet. Merupakan hewan benthik yang hidup di bawah pasir laut dangkal. Dinding tubuh lancelet transparan dan berwarna merah jambu. Tubuh terbagi menjadi kepala, badan, dan ekor. Kepala terdiri dari rostrum, mulut, dan oral cirri. Rostrum berbentuk seperti moncong yang berfungsi sebagai untuk menyingkirkan pasir saat menggali lubang. Mulut dikelilingi oleh oral cirri, yaitu rangkaian tonjolan panjang sebagai alat indera. Pada sisi lateral ventral badan terdapat lipatan metapleura.

Notochord pada lancelet terletak sepanjang tubuh, benang saraf bolong terdapat di sepanjang tubuh, ekor terletak di belakang anus, dan pharinx besar dengan celah insang yang berpasangan. Tubuh Cephalochordata beruas-ruas tampak jelas dari otot renang yang tersusun sepanjang badan, disebut myomere, dan dibatasi oleh myosepta.

Cara makan lancelet adalah dengan menelan partikel bahan organik yang terbawa air masuk melalui mulut. Vestibule (rongga mulut pendek) berfungsi untuk mempercepat aliran air dari mulut ke pharinx. Diantara vestibule dan pharinx terdapat velum yang dilengkapi otot sphincter dan sel indera.

Semua Cephalochordata dioecious dan pembuahan terjadi di luar. Bentuk larva asimetris, mulut yang besar terletak di sisi kepala dan insang di sisi kanan. Selama mengalami metamorfosa yang bertahap, mulut larva menjadi velum sehingga menjadi larva yang simetris bilateral. Selama stadia larva larva hidup sebagai plankton, sedangkan yang dewasa sebagai benthos.

AVERTEBRATA AIR I

A. NEMERTINA/ RHYNCOCOELA

Bentuk tubuh Rhyncocoela pipih, panjang sekitar 2 cm sampai dengan 2 meter. Memiliki warna yang pucat namun ada juga yang berwarna jingga, kuning, dan bergaris-garis. Rhyncocoela juga memiliki probosis, semacam belalai yang digunakan untuk menangkap mangsa dan dapat ditarik ke dalam mulut. Rhyncocoela memiliki sistem pencernaan yang lengkap dan sistem peredaran darah tertutup. Mulut terdapat di bagian anterior dan anus di ujung posterior, namun belum memiliki jantung.

Probosis pada Rhyncocoela dapat mengelurakan racun untuk meracuni korbannya. Sebagian besar hidup di pantai. Semua jenis Rhyncocoela adalah karnivora, memakan cacing annelida dan krustasea kecil. Rhyncocoela juga mampu regenerasi. Bagian anterior yang melakukan regenerasi akan menjadi cacing utuh kembali dan bagian posteriornya mati, namun bagian belalainya juga dapat tumbuh kembali menjadi cacing utuh. Reproduksi aseksual bisa terjadi dengan fragmentasi sedangkan reproduksi seksualnya menghasilkan anak cacing pada jenis Nemertina yang habitatnya di air tawar dan berupa stadia larva pilidium pada jenis Nemertina yang habitatnya berada di perairan laut.

B. ENTOPROCTA

Nama lain Entoprocta adalah Kamptozoa. Entoprocta berasal dari kata proktos yang berarti anus. Fillum ini termasuk seksi Pseudoselomata. Pseudoselomata berisi parenkim yang seperti agar dan meluas samapi ke tentakel. Bentuk tubuh Entoprocta seperti mangkuk yang disebut calyx dan dikelilingi oleh tentakel bersilia, bertangkai dan menempel pada organisme air.

Habitat Entoprocta berada di air laut dan hanya Urnatella gracilis yang berada di air tawar, dan hidup di bawah batu pada aliran sungai. Ukuran Entoprocta sekitar 5 mm. Biasanya hidup soliter atau berkoloni yang terdiri dari beberapa zooid. Entoprocta tergolong sebagai hewan filter feeder, memakan plankton kecil, atau partikel-partikel organik.

Reproduksi aseksual Entoprocta adalah melakukan pertunasan (budding) dan kebanyakan Entoprocta bersifat hermafrodit, dan telur dibuahi dalam ovarium pada reproduksi seksual. Telur yang menetas berupa larva trochophore.

Entoprocta memiliki simetri tubuh bilateral, yang terdiri dari calyx dan tangkai. Saluran pencernaannya berbentuk huruf U. Tidak memiliki sistem peredaran dan sistem pernafasan. Sistem ekskresi berupa protonephridia. Entoprocta terbagi menjadi tiga famili, diantaranya adalah famili Loxosomatidae, famili Pedicellinidae, dan famili Urnatellidae yang habitatnya berada di perairan tawar.

C. KINORHYNCHA

Kinorhyncha berasal dari kata rhynchos yang berarti paruh atau hidung, dan kinetikos yang berarti bergerak. Tubuh Kinorhyncha ditutupi oleh kutikula yang terbagi menjadi ruas-ruas yang jelas. Ruas yang pertama adalah kepala, dan mulut, ruas kedua adalah ruas leher dan yang ketiga adalah ruas badan beserta sebelas ruas lainnya.

Habitat Kinorhyncha di permukaan lumpur atau pasir laut. Saluran pencernaannya bagian depan dilapisi kutikula, memiliki pharynx penghisap yang terbentuk dari lapisan epitel berotot dan tidak berotot. Esofagus pendek berhubungan dengan saluran pencernaan bagian tengah. Sistem ekskresi berupa protonephridia dan sistem syarafnya berupa sistem ganglion tangga tali.

Klasifikasi Kinorhyncha adalah ordo Hemalorhagida yang kepala dan lehernya retraktil, dan ordo Cylorhagida yang hanya lingkar kepalanya yang retraktil.

D. GASTRORICHA

Fillum Gastroricha memiliki simetri tubuh bilateral, tubuh langsing seperti botol, tubuhnya tertutup oleh kutikula, dan sering berbentuk sisik atau duri. Saluran pencernaannya lengkap dan sistem ekskresi berupa protonephridia yang sepasang. Reproduksi melalui cara parthenogenesis dan biasanya bersifat hermafrodit.

Bagian tubuh anterior terdapat sepasang protonephridia dan bagian posterior bercabang dua dilengkapi organ penempel. Organ penempel berbentuk tabung berjumlah banyak terdapat di kepala, sepanjang sisi tubuh, dan ujung posterior. Tabung penempel digunakan untuk menempel sementara pada substrat.

Fillum Gastroricha terbagi menjadi kelas Macrodasyoidea yang memiliki tabung perekat di bagian anterior, lateral, dan posterior, sedangkan kelas Chaetonotoidea tabung perekatnya hanya terletak di ekor.

E. NEMATODA

Nematoda disebut sebagai cacing gelang. Tubuhnya tertutup oleh lapisan kutikula. Nematoda hidup bebas, baik di air laut, payau, maupun tawar. Bentuk tubuh Nematoda panjang, langsing, dan di bagian anteriornya daerah mulut merupakan simetri radial atau biradial. Mulut di bagian anterior terdapat 3 sampai dengan 6 bibir, papilla, dan setae. Sistem pernafasan dan sistem peredaran darah tidak ada. Sistem syaraf pada Nematoda mengelilingi esophagus. Sistem ekskresi berupa sistem kelenjar tanpa saluran. Sebagian besar Nematoda bersifat karnivora, dan ada juga yang bersifat deposit feeder. Sistem reproduksinya kebanyakan sistem rumah dua. Contoh cacing dari fillum Nematoda adalah Ascaris lumbricoides yang berada pada usus manusia, dan Entrobius vermicularis yaitu cacing kremi yang terdapat pada anak kecil.

F. BRYOZOA

Bryozoa berasal dari kata bryon yang berarti lumut, dan zoon yang berarti hewan. Bryozoa berupa koloni hewan kecil-kecil yang menyerupai lumut berbulu. Bryozoa sendiri lebih dikenal dengan nama lain Ectoprocta, yang berasal dari kata ektos yang berarti di luar, dan proctos, yang berarti anus. Jadi Bryozoa merupakan kelompok hewan yang memiliki anus di bagian luar lophophore. Lophophore adalah lipatan dinding tubuh yang mengelilingi mulut, dan mengandung tentakel bercilia. Bryozoa adalah hewan yang berkoloni dan sessile. Tiap individu terbungkus oleh zooecium yaitu selubung dari khitin atau lapisan tebal kalsium karbonat yang tertutup khitin.

Saluran pencernaan Bryozoa lengkap membentuk huruf U dan mulut yang dikelilingi oleh lophophore. Selom atau rongga tubuh tumbuh dengan sempurna, sedangkan sistem peredaran darah dan sistem ekskresi tidak ada. Reproduksi terjadi secara aseksual dan seksual. Biasanya hermafrodit dan gonad terbentuk dari peritoneum, telur dierami dalam ovicell. Reproduksi aseksual menghasilkan statoblast.

Fillum Bryozoa terbagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas Phylactolaemata, yang memiliki lophophore berbentuk tapal kuda, mempunyai epistome, dinding tubuh berotot, dan menghasilkan statoblast. Contohnya adalah ordo Plumatellina. Kelas yang kedua yaitu kelas Gymnolaemata yang memiliki lophophore berbentuk lingkaran, tidak mempunyai epistome, dinding tubuhnya tidak berotot, dan bersifat koloni polimorfik. Kelas yang ketiga adalah kelas Stenolaemata, yang memiliki bentuk zooecium seperti tabung.

G. ECHIURA

Bentuk tubuh Echiura adalah bulat panjang dan mempunyai probosis seperti sendok namun tidak dapat ditarik ke dalam badannya. Permukaan tubuhnya halus atau ditutupi kutil-kutil yang tersusun melingkar atau tidak beraturan. Sebagian besar Echiura memakan detritus yang masuk terperangkap oleh lendir di bagian dalam probosis. Hasil reproduksi seksual Echiura berupa telur yang menetas menjadi larva trocophore yang berenang bebas sebagai meroplankton kemudian turun ke dasar laut dan tumbuh menjadi Echiura muda yang hidup sebagai benthos.

H. BRACHIOPODA

Bentuk tubuh Brachiopoda seperti Pelecypoda, memilki dua cangkang, namun cangkang Brachiopoda terdiri atas keping dorsal yang lebih kecil dibanding dengan keping ventral. Brachiopoda semuanya hidup di perairan laut, soliter, dan biasanya menempel atau pada benda padat lainnya. Di dalam cangkang terdapat lophophore yang berfungsi untuk mendapatkan makanan. Bentuk lophophore seperti dua tangan yang panjang, menggulung, dan mengandung deretan tentakel yang alurnya menuju mulut.

Sistem peredaran darah Brachiopoda adalah sistem terbuka. Alat ekskresi berupa sepasang atau dua pasang nephridia. Ssitem syaraf terdiri atas cincin syaraf ganglia di sekita esophagus.

Reproduksi seksual umumnya diecious, gonad biasanya 4 buah kelompok gamet yang dihasilkan dalam peritoneum dan setelah menetas telur menjadi larva. Larva inarticulata bentuknya mirip brachiopod dewasa dan tidak mengalami metamorfosa, bentuk dan ukuran kedua keping cangkang hampir sama, tidak mempunyai engsel atau hinge, kedua keping cangkang hanya dihubungkan dengan otot. Saluran pencernaan inarticulata lengkap dan mempunyai anus. Larva articulata sebagai meroplankton selama 24 jam sampai 30 jam kemudian turun ke substrat, mengalami metamorfosa menjadi bentuk yang dewasa. Bentuk dan ukuran kedua keping cangkang Articulata tidak sama, kedua keping cangkang dihubungkan oleh otot dan engsel pada bagian posterior. Cangkang terdiri dari kalsium karbonat dalam bentuk Kristal kalsit. Saluran pencernaan tidak lengkap, tidak mempunyai anus, pedicle pendek dan lentur sehingga hewan dapat bergerak ke kiri dan ke kanan juga memutar.

Wednesday, April 6, 2011

Karakteristik dan Morfologi Kerang Darah

Karakteristik Morfologi Kerang Darah
(Anadara granosa)
Asti Latifah (C34090043)
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
24 Maret 2011
ABSTRAK
Kerang darah merupakan salah satu jenis kerang dari kelas Bivalvia yang berpotensi dan memiliki nilai ekonomis untuk dikembangkan sebagai sumber protein dan mineral untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Kerang darah biasanya dijadikan makanan dan diproduksi dalam bentuk segar, hidup, kupas rebus, dan sate. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik preparasi kerang darah (Anadara granosa), mengetahui karakteristik rendemen, laju kemunduran mutu, dan komposisi kimia (analisis proksimat). Metode yang digunakan adalah perhitungan morfometrik, perhitungan rendemen dari kerang darah, dan analisis proksimat. Data yang diperoleh dari hasil praktikum adalah panjang total kerang darah (3,13 ± 0,24) cm, lebar (2,53 ± 0,29) cm, tinggi (2,29 ± 0,41) cm, dan bobot total (10,29 ± 1,74) gr. Rendemen kerang darah yang diperoleh adalah rendemen daging sebesar 13%, rendemen cangkang sebesar 69%, dan rendemen jeroan sebesar 18%.
Kata kunci : analisis proksimat, kerang darah, morfometrik, rendemen.

PENDAHULUAN

Kerang darah (Anadara granosa) merupakan salah satu jenis kerang yang berpotensi dan bernilai ekonomis tinggi untuk dikembangkan sebagai sumber protein dan mineral untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Kerang darah banyak ditemukan pada substrat yang berlumpur di muara sungai dengan topografi pantai yang landai sampai kedalaman 20 m. Kerang darah bersifat infauna yaitu hidup dengan cara membenamkan diri di bawah permukaan lumpur di perairan dangkal (PKSPL 2004).
Ciri-ciri dari kerang darah adalah mempunyai dua keping cangkang yang tebal, ellips, dan kedua sisi sama, kurang lebih 20 rib, cangkang berwarna putih ditutupi periostrakum yang berwarna kuning kecoklatan sampai coklat kehitaman. Ukuran kerang dewasa 6-9 cm. Menurut Pratt (1935) dan Barnes (1974) klasifikasi dari kerang darah (Anadara granosa) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Pelecypoda/ Bivalvia
Subkelas : Lamelladibranchia
Ordo : Taxodonta
Famili : Arcidae
Genus : Anadara
Spesies : Anadara granosa
Kerang darah termasuk ke dalam kelas Pelcypoda/ Bivalvia yang kebanyakan hidup di laut terutama di daerah litoral, dasar perairan yang berlumpur atau berpasir. Pada dasarnya tubuh Pelecypoda ini tertutup dua keping cangkang yang berhubungan di bagian dorsal dengan adanya hinge ligamen, yaitu semacam pita elastik yang terdiri dari bahan organik seperti zat tanduk. Kedua keping cangkang pada bagian dalam juga ditautkan oleh satu atau dua buah otot aduktor yang bekerja secara antagonis dengan hinge ligamen (Suwignyo 1998).
Kerang darah (Anadara granosa) merupakan ciliary feeder (sebagai deposit feeder atau filter feeder). Sebagai filter feeder kerang menyaring makanannya menggunakan insang yang berlubang-lubang. Makanan utamanya adalah plankton, terutama fitoplankton (Suwignyo 1998).
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik preparasi, rendemen, komposisi kimia, dan kemunduran mutu kerang darah.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum karakteristik dan morfologi kerang darah (Anadara granosa) dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Maret 2011, pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pengetahuan Bahan Baku dan Industri Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam praktikum ini adalah kerang darah (Anadara granosa), es batu, air, serta bahan kimia seperti HCl, NaOH, H2SO4, H3BO3, dan selenium.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat bedah, baskom, wadah/ nampan, heater (pemanas air), plastik, trash bag, penggaris, score sheet, sarung tangan, timbangan digital, tabung Kjeldahl, dan destilator.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini meliputi teknik preparasi, perhitungan morfometrik, rendemen, dan analisis proksimat. Sebelumnya, kerang darah ditimbang berat utuhnya terlebih dahulu dengan timbangan digital, kemudian kerang darah diukur panjang, lebar, serta tingginya dengan penggaris. Setelah ditimbang dan diukur daging dipisahkan dari cangkangnya dengan cara kedua keping cangkangnya dibuka. Kemudian daging dipisahkan dengan jeroannya. Setelah semuanya dipisahkan, masing-masing ditimbang bobotnya dengan timbangan digital lalu dihitung masing-masing rendemennya. Tahap selanjutnya adalah daging kerang darah diuji dengan analisis proksimatnya dan diamati laju kemunduran mutunya selama 3 hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Ukuran dan Berat Kerang Darah (Anadara granosa)
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum karakteristik dan morfologi kerang darah (Anadara granosa) diantaranya adalah penghitungan data morfometrik dari kerang darah (Anadara granosa).
Morfometrik adalah pengukuran standar yang digunakan pada ikan atau hewan air lainnya antara lain panjang standar, panjang moncong, panjang sirip punggung. Morfometrik merupakan ciri yang dapat dihitung berupa panjang total, panjang badan, lebar badan, dan bobot total (Iktiologi Indonesia 2008).
Berdasarkan perhitungan data sampel yang diambil (sampel personal absen 24-47) diperoleh data panjang total kerang darah (Anadara granosa) adalah (3,13 ± 0,24) cm berkisar antara 2,89 cm hingga 3,37 cm, lebar badan (2,53 ± 0,29) cm berkisar antara 2,24 cm hingga 2,82 cm, tinggi sebesar (2,29 ± 0,41) cm berkisar antara 1,88 cm hingga 2,7 cm, dan bobot total adalah (10,29 ± 1,74) gr berkisar antara 8,55 gr hingga 12,03 gr. Menurut Nurjanah et.al. (2005) ukuran kerang darah (Anadara granosa) berkisar antara 3,2-7,2 cm (panjang) dan lebar sekitar 2,8-5,6 cm.
Rendemen Kerang Darah (Anadara granosa)
Rendemen adalah persentase seberapa besar bagian dari komoditi yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan perhitungan data sampel yang diambil (sampel personal absen 24-47) diperoleh data rendemen kerang darah (Anadara granosa) adalah rendemen daging sebesar 13%, rendemen cangkang sebesar 69%, dan rendemen jeroan 18%. Rendemen yang terbesar adalah rendemen cangkang yang persentasenya adalah 69% dan yang terkecil adalah rendemen daging sebesar 13%. Saat ini, daging kerang darah dimanfaatkan sebagai bahan pangan (konsumsi) dalam bentuk produk segar, kupas rebus, dan sate. Jeroan kerang darah digunakan untuk pakan ternak, dan cangkang digunakan untuk penjernihan air.
Komposisi Kimia Kerang Darah (Anadara granosa)
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mngidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan.
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa pada bahan pangan (Winarno 1997). Berdasarkan hasil pengamatan kadar air pada kerang darah sebesar 77,80%. Hal ini menunjukkan bahwa kerang darah merupakan komoditi hasil perikanan yang memiliki kadar air yang tinggi. Menurut Nurjanah et.al. (2005) nilai proksimat kadar air kerang darah sebesar 74,37%.
Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan (Winarno 1997). Berdasarkan hasil pengamatan kadar abu pada kerang darah sebesar 2,30%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar abu pada kerang darah kandungannya tinggi. Menurut Nurjanah et.al. (2005) kadar abu pada kerang darah sebesar 2,24%.
Hasil perikanan digolongkan sebagai ikan berlemak rendah jika mengandung lipid kurang dari 2%, ikan berlemak sedang mengandung lipid 2-5%, dan ikan berlemak tinggi mengandung lipid di atas 5% (Irianto dan Giyatmi 2009). Berdasarkan hasil pengamatan kadar lemak pada kerang darah sebesar 5,85%. Menurut Nurjanah et.al. (2005) kadar lemak kerang darah sebesar 2.50%. Kerang-kerangan adalah makanan sumber lemak yang aman. Kadar asam lemak tak jenuh ganda omega-3 dalam makanan laut cukup tinggi. Asam lemak omega-3 dapat menigkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein) dan menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) dan trigliserida dalam darah (Furkon 2004).
Berdasarkan hasil pengamatan kadar protein kerang darah sebesar 10,27%. Hal ini menunjukkan bahwa kerang darah mengandung kadar protein yang tidak terlalu tinggi. Menurut Nurjanah et.al. (2005) kadar protein kerang darah tinggi sebesar 19,48%. Kandungan protein jenis kerang-kerangan relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan kandungan protein dari jenis ikan pada umumnya, namun kerang-kerangan mempunyai kandungan taurin yang cukup tinggi (Andamari dan Subroto 1991).
Kadar karbohidrat pada praktikum kerang darah ini diketahui dengan metode by difference. Hasil pengamatan menunjukkan kadar karbohidrat kerang darah sebesar 3,78%.
Kemunduran Mutu pada Kerang Darah (Anadara granosa)
Produk perikanan memiliki sifat cepat mengalami kemunduran mutu. Hal ini disebabkan karena sebagian besar kandungan daging ikan merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Daging ikan sebagian besar terdiri dari protein dan air. Tingginya kadar air dalam ikan inilah yang menyebabkan ikan mudah sekali mengalami pembusukan karena bakteri.
Kemunduran mutu kerang darah (Anadara granosa) dapat diuji dengan pengujian organoleptik. Uji organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses penginderaan. Uji organoleptik merupakan penilaian subyektif yang dilakukan secara individu dengan mengandalkan indera manusia sebagai alat utama (Irianto dan Giyatmi 2009). Parameter yang diamati dalam mengamati kemunduran mutu kerang darah adalah penampakan, bau, dan tekstur. Berikut ini adalah hasil pengamatan kemunduran mutu pada kerang darah (Anadara granosa).
Penampakan
Laju kemunduran mutu kerang darah dipengaruhi oleh suhu, lingkungan, pH, dan faktor internal dari kerang darah tersebut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, perlakuan suhu kamar mengakibatkan kemunduran mutu pada kerang darah lebih cepat terjadi dibandingkan dengan kerang darah yang diberi perlakuan suhu chilling. Selain itu kerang darah dalam kondisi utuh juga lebih cepat mengalami kemunduran mutu dibandingkan dengan kerang darah yang dalam keadaan tanpa jeroan. Hal ini disebabkan di dalam jeroan terdapat banyak mikroorganisme yang berperan aktif untuk perombakan dan mempercepat peristiwa pembusukan pada tubuh kerang darah.
Suhu ruangan dapat mempengaruhi proses cepat berlangsungnya oksidasi lemak pada kerang darah sehingga kerang darah lebih cepat mengalami kemunduran mutunya, sedangkan pada suhu chilling laju kemunduran mutunya lebih lambat karena pada suhu dingin kerja enzim lebih terhambat. Selain itu, mikroorganisme yang terdapat pada saluran pencernaan (jeroan) mengakibatkan kerang darah dalam kondisi utuh lebih cepat mengalami proses kemunduran mutunya karena bakteri dalam jeroan dengan cepat menyerang bagian-bagian tubuh biota tersebut (Irianto dan Giyatmi 2009).
Bau
Bau merupakan parameter untuk menilai laju kemunduran mutu kerang darah. Berdasarkan pengamatan laju kemunduran mutu bau pada kerang darah semakin hari laju kemunduran mutunya semakin menurun dan baunya semakin membusuk. Bau yang timbul diakibatkan oleh terakumulasinya basa-basa yang menguap hasil proses dekomposisi oleh mikroorganisme seperti senyawa-senyawa sulfur, alkohol aromatik (fenol, kresol), serta senyawa-senyawa heterosiklik seperti indol dan skatol (Nurjanah et.al. 2004). Bau pada kerang darah utuh suhu kamar lebih cepat berbau busuk karena adanya bakteri yang mendekomposisi senyawa-senyawa sederhana hasil perombakan enzim menjadi senyawa-senyawa basa menguap yang baunya menyengat sehingga terjadi kemunduran mutu.
Tekstur
Kemunduran mutu tekstur pada kerang darah ditandai dengan semakin melunaknya daging. Kemunduran mutu kerang darah yang berpengaruh pada tekstur daging adalah penurunan pH yang mengakibatkan enzim-enzim yag bekerja pada pH rendah menjadi aktif. Katepsin, yaitu enzim proteolitik yang berfungsi menguraikan protein menjadi senyawa sederhana, merombak jaringan otot menjadi lebih longgar yang mengakibatkan daging pada biota hasil perairan menjadi lunak. Proses perombakan oleh enzim tersebut disebut dengan autolisis (Diniah et.al. 2006).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengukuran morfometrik dan rendemen dilakukan pada praktikum kerang darah (Anadara granosa) ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar persentase dari bagian biota kerang darah yang daat dimanfaatkan. Berdasarkan data yang diperoleh panjang total kerang darah (Anadara granosa) adalah (3,13 ± 0,24) cm, lebar badan (2,53 ± 0,29) cm, tinggi sebesar (2,29 ± 0,41) cm, dan bobot total adalah (10,29 ± 1,74) gr. Nilai rendemen terbesar adalah rendemen cangkang 69% dan yang terkecil adalah rendemen daging sebesar 13%. Hasil uji proksimat yang diperoleh adalah kadar air sebesar 77,80%, kadar abu sebesar 2,30%, kadar protein sebesar 10,27%, kadar lemak sebesar 5,85%, dan kadar karbohidrat sebesar 3,78%. Laju kemunduran mutu kerang darah yang paling cepat adalah kerang darah dalam kondisi utuh dengan perlakuan suhu kamar. Hal ini disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang terdapat di dalam jeroan kerang tersebut dan mikroorganisme berperan dalam mendekomposisi senyawa sederhana hasil perombakan dari autolisis enzim pada tubuh biota.
Saran
Pelaksanaan praktikum dan pengamatan lanjutan berupa analisis proksimat dengan menggunakan metode lain sehingga bisa dibandingkan dan hasilnya lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

[Iktiologi Indonesia]. 2008. Morfometrik dan Meristik. http://iktiologi-indonesia.org. [29 Maret 2011]
Andamari R, Subroto W. 1991. Pengamatan kerang-kerangan terutama nilai gizi dan kemungkinan budidayanya di Pantai Paperu (P. Saparua). Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Vol 59: 51-60.
Diniah, Lismawati,D., Martasuganda,S. 2006. Uji coba dua jenis bubu penangkap keong macan di perairan Karang Serang kabupaten Tanggerang. Jurnal Mangrove dan Pesisir Vol. VI No.2/2006.
Furkon UA. 2004. Konsumsi Kerang dan Udang Membahayakan Kesehatan, Benarkah ?. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/15/cakrawala/lainnya06.htm. [29 Maret 2011].
Irianto,H.E. dan Giyatmi,S. 2009. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Nurjanah, Setyaningsih,I., Sukarno, Muldani,M. 2004. Kemunduran mutu ikan Nila merah (Oreochromis sp.) selama penyimpanan pada suhu ruang. Buletin Teknologi Hasil Perikanan. Volume VII Nomor 1 tahun 2004.
Nurjanah, Zulhamsyah, Kustiyariyah. 2005. Kandungan mineral dan proksimat kerang darah (Anadara granosa) yang diambil dari Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Buletin Teknologi Hasil Perairan. Vol VIII. Nomor 2.
Winarno. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.